Di sebuah negeri kecil yang katanya sedang giat membangun, berdirilah seorang Ayah—Kepala Daerah yang terkenal bersih. Di setiap pidato ia selalu berkata, “Korupsi adalah musuh kita bersama!”
Spanduk bertuliskan Bersih, Transparan, Melayani terpampang di mana-mana. Setiap ada pejabat kecil tersandung kasus, ia berdiri paling depan. Wajahnya tegas. Ucapannya lantang. Seolah ia benteng terakhir kejujuran.
Padahal di balik meja kerjanya, ada angka-angka yang tak pernah benar-benar sampai ke rakyat. Ada proyek yang nilainya membengkak. Ada tanda tangan yang selalu tepat waktu—asal semua sudah “diatur”.
Ia tidak pernah menyentuh uang secara langsung. Ia hanya memastikan sistem berjalan sesuai kepentingannya. Dan karena tangannya tampak bersih, ia merasa dirinya memang bersih.
Tak jauh dari kota, anaknya menjabat sebagai Kepala Desa. Masih muda, masih belajar tentang kekuasaan. Ia tumbuh melihat bagaimana Ayahnya dihormati dan dipuji.
Suatu hari, terdengar kabar bahwa dana desa tidak sepenuhnya sampai ke warga. Nilainya tak besar, tapi cukup menimbulkan bisik-bisik.
Sang Ayah mendengar kabar itu.
Alih-alih memanggil anaknya sebagai keluarga, ia memanggil bawahannya sebagai penguasa.
“Periksa Kepala Desa itu. Jangan pandang bulu,” katanya tegas.
Publik memuji. Media menyorot. “Pemimpin hebat! Bahkan anak sendiri diperiksa!”
Di meja makan, suasana sunyi. Sang anak menunduk.
“Ayah tahu?” tanyanya pelan.
Sang Ayah menjawab singkat, “Di kantor, saya bukan ayahmu.”
Ironisnya, di kantor pula ia paling lantang berbicara tentang integritas.
Sang anak mungkin salah. Tapi ia hanya meniru. Ia belajar bahwa selama terlihat bersih, semuanya aman. Ia belajar dari rumahnya sendiri.
Bedanya, Ayah bermain di langit tinggi. Sulit dijangkau. Jejaknya tertutup rapi.
Anak masih berjalan di tanah. Bekas kakinya mudah terlihat.
Ini bukan sekadar kisah Ayah dan Anak.
Ini tentang cermin.
Tentang bagaimana seseorang bisa begitu keras menilai orang lain, namun begitu lunak pada dirinya sendiri.
Tentang bagaimana kekuasaan kadang lebih pandai menjaga citra daripada menjaga hati nurani.
Kadang, yang paling nyaring meneriakkan kejujuran bukanlah yang paling bersih.
Dan yang paling cepat mengadili, belum tentu paling suci.
—
Cerita ini adalah karya fiksi dan refleksi sosial. Tidak merujuk pada individu atau peristiwa tertentu.

Posting Komentar